Perburuan Penangkapan Nunun Nurbaeti di Thailand ternyata benar-benar dilakukan secara silent operation. Saat Jawa Pos menelusuri tentang b...
Perburuan Penangkapan Nunun Nurbaeti di Thailand ternyata benar-benar dilakukan secara silent operation. Saat Jawa Pos menelusuri tentang bagaimana proses penangkapan buron suap cek pelawat pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (DGS BI) Miranda Goeltom itu, ternyata pihak Royal Thai Police mengaku tidak mengetahuinya.
Jawa Pos mencoba menelusuri ke beberapa kantor polisi di Thailand yang membawahi Distrik Saphan Sung lokasi yang diduga tempat tertangkapnya Nunun. Pertama adalah Royal Thai Police Distrik Bangkok Division 3 yang terletak di Min Buri dan Royal Thai Police Distrik Bangkok Division 4 yang terletak Bangchan. Selengkapnya di Sadisnya Kronologi Penangkapan Nunun Nurbaeti.
Saat disodori tentang nama Nunun Nurbaeti yang telah ditangkap Thai Royal Police, para petugas langsung mencarinya dalam data base. Setelah beberapa saat memelototi komputer untuk mencari tentang data tersebut, para polisi di dua kantor tersebut sama-sama mengaku tidak ada data atas nama tersebut. "No no no. We don"t have," kata polisi bernama Sersan Nanthawat itu.
Saat Jawa Pos meminta agar menemui pimpinan masing-masing kantor itu, mereka tidak memberikan izin lantaran atasan mereka sibuk dan tidak ada izin dari KBRI. Mereka pun lalu menyarankan agar mencari data tersebut ke pihak Interpol Thailand yang berkantor di Mabes Royal Thai Police Bangkok.
Namun Jawa Pos menemui hal yang sama saat menemui salah seorang petugas interpol Thailand, dia langsung menutup diri saat mengetahui bahwa yang menemuinya adalah orang Indonesia. Perempuan yang menemui Jawa Pos langsung berkata, "Pasti berkaitan dengan penangkapan Nunun."
Perempuan yang tidak mau namanya dikorankan itu mengatakan bahwa pihaknya tidak bisa memberikan informasi apapun terkait hal tersebut. Dia beralasan bahwa pihak interpol Thailand tidak mengetahui tentang operasi penangkapan itu. "Interpol tidak dilibatkan dalam operasi tersebut," katanya.
Selain itu dia memungkinkan bahwa tertangkapnya Nunun merupakan hasil operasi intelejan atau jaksa di Thailand sebagai eksekutor keputusan sidang gugatan ektradisi. "Maybe," tegasnya. Yang jelas, lanjut dia pihak interpol hanya mendapat laporan setelah Nunun berhasil ditangkap.
Nah, dari situ interpol yang mendampingi sampai Nunun diserahkan kepada pihak KPK di dalam pesawat Garuda Indoensia dengan penerbangan GA 867. Permintaan Jawa Pos untuk bertemu dengan pihak yang berwenang memberikan keterangan resmi pun juga ditolaknya dengan alasan Interpol tidak berhak memberikan keterangan apapun.
Saat dikonfirmasi tentang ketidaktahuan polisi Thailand tentang penangkapan itu, Dubes RI untuk Thailand Mohammad Hatta mengaku tidak tahu menahu detail penangkapan Nunun. Menurutnya, itu adalah kewenangan penegak hukum di Thailand dan bukan ranah kedutaan. Sebab, pengadilan Thailand sendiri sejak Juni 2011 lalu telah mengeluarkan personal arrest (perintah penangkapan seseorang) kepada Nunun apabila berada di wilayah Thailand.
Keterangan Interpol Thailand ini cocok dengan keterangan Interpol Mabes Polri. Kepala Divisi Hubungan Internasional Polri yang membidangi Interpol Irjen Boy Salamudin menjelaskan pemulangan Nunun adalah tugas Komisi Pemberantasan Korupsi. "Secara teknis disana (KPK)," kata Boy.
Ini tentu berbeda dengan proses penangkapan Nazarudin di Kolombia yang sangat melibatkan Interpol. Saat itu, Interpol Kolombia konfirmasi langsung ke InterpolMabes Polri.
Sumber Jawa Pos di Interpol Polri menyebut, sejak KPK meminta dibuatkan surat red notice ke Interpol internasional pada Juni 2011, Interpol Indonesia sudah pasif. "Untuk yang pemulangan ini kita juga tidak ada personel yang terlibat," kata perwira menengah ini.
Dia menganalisa, pemulangan Nunun sebenarnya murni inisiatif pihak Thailand yang melaksanakan keputusan pengadilan gugatan ektradisi yang dimenangkan Indonesia. "Jadi, mungkin saja yang mengeksekusi adalah jaksanya Thailand," katanya.
Sumber: jppn.com
COMMENTS